Loading...

Tebus Tiga Dosa Pendidikan? Hanya Pendidikan Islam Solusinya!

Loading...
Tebus Tiga Dosa Pendidikan? Hanya Pendidikan Islam Solusinya! - Hallo sahabat kabar harian DK, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Tebus Tiga Dosa Pendidikan? Hanya Pendidikan Islam Solusinya!, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Tebus Tiga Dosa Pendidikan? Hanya Pendidikan Islam Solusinya!
link : Tebus Tiga Dosa Pendidikan? Hanya Pendidikan Islam Solusinya!

Baca juga


Tebus Tiga Dosa Pendidikan? Hanya Pendidikan Islam Solusinya!

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengungkap ada tiga dosa dalam dunia pendidikan Indonesia yang perlu segera ditangani. Dosa-dosa yang dimaksud Nadiem adalah kesalahan yang berulang kali terjadi dalam sistem pendidikan. Menurutnya, butuh pembenahan sistem untuk menghapus dosa-dosa tersebut. Dosa intoleransi, dosa kekerasan seksual, dan dosa bullying (perisakan) adalah tiga dosa yang tidak bisa diterima sama sekali dalam pendidikan. Nadiem mengakui sudah banyak aturan yang dikeluarkan merespons kejadian-kejadian itu. Namun ia merasa peraturan yang ada tidak dijalankan secara efektif sehingga belum menuai hasil maksimal.

 Ia juga menyatakan tidak bisa menghapus tiga dosa itu sendirian karena wewenang Mendikbud terbatas. Dia berharap ada kekompakan antarlembaga negara dalam mengatasi tiga masalah tersebut. Nadiem berjanji bakal mencari cara untuk menyetop agar ketiga dosa tadi tidak terulang lagi. Namun ia meminta waktu untuk bisa melakukannya. Nadiem juga menyampaikan bahwa pendidikan bukan hanya melulu fukos penguatan karakter, dan melatih namun juga harus bisa memberikan tindakan yang tegas pada setiap jenjang terhadap ketiga dosa tersebut.(cnnindonesia.com.Jum’at21/02/2020)
Pendidikan memang akan selalu menyajikan wacana yang kontiniyu dan tidak akan pernah habis. Sebab dalam dunia pendidikanlah proses pembentukan warna generasi di masa kini, dan masa depan. Kondisi sosial yang ada juga tidak lepas dari pengaruh dunia pendidikan yang sedang berjalan. Oleh karena itu, pendidikan juga termasuk kolom seksi perbincangan kalangan intelektual dan politisi.

Sebagai menteri yang dimandati mengurus pendidikan, tentunya Nadiem terus berusaha memberikan ide-ide yang menurutnya akan mampu menerobos dunia pendidikan dan memberikan pengaruh yang signifikan. Meskipun tidak jarang, ide-ide yang telah ia keluarkan jika dianalisis dari akar permasalahan pendidikan, tidak menyentuh. Lalu bagaimana akan solutif? Oleh karena itu melihat pernyataan Nadiem di atas, terdapat beberapa poin yang layak dikritisi.

Pertama, fokus berbincang persoalan tiga dosa pendidikan yang disampaikan oleh Nadiem, adalah fakta terkini yang tidak bisa dipungkiri. Dunia pendidikan di Indonesia sedang kembali dirundung musibah degan kelakuan-kelakuan buruk terhadap sesama teman sekolah. Bullying, kini menjadi sorotan masyarakat dan media yang pada dua pekan terkahir telah mengisi catatan berita lokal dan nasional, bahkan internasional. Korban mengalami trauma, juga kekerasan fisik hingga harus menjalani penanganan medis. Seperti salah satu korban siswa yang tangannya harus diamputasi akibat bully. Atau menderita trauma akibat ejekan-ejekan bahkan sampai ditendang dan dipukul meski tidak memberikan bekas pada tubuhnya. Namun pasti si korban akan mengingat seumur hidupnya.

Bully bukanlah hal baru sebenarnya. Sejak dulu, kasus bully sudah ada. Di era tahun 90-an pun perlakukan bully di sekolah sudah terjadi. Penyebabnya tidak masuk akal. Hanya karena ada salah satu teman di kelas atau sekolah yang punya perbedaan mencolok dari segi fisik, misalnya bentuk tubuh yang lebih besar dari mayoritas siswa lain, atau lebih kecil. Warna kulit yang berbeda misalnya terlalu gelap dibandingkan mayoritas teman yang lain. Wajah yang menurut manusia aneh disebabkan adanya penyakit syndrome pada korban, juga tidak lepas dari bully-an. Pelaku bully seolah-olah tidak menerima perbedaan itu dan merasa tidak sepadan dengan korban bully.

Kedua, apalagi bicara kolom free sex. Kasus yang satu ini sudah seperti air bah yang tidak dapat dibendung dikalangan pelajar. Mulai dari SD-PT. Bahkan pelaku free sex mayoritas di negeri ini adalah usia sekolah. Pelajar yang memang tidak dibentengi dengan pemahaman Islam yang kuat, akhirnya berfikir dan bertindak liberal. Adakah sekolah negeri di Indonesia yang semua jajaran instansi sekolahnya serentak melarang siswanya pacaran? Oh tentu tidak. Karena pola pikir sekuler telah meracuni isi kepala kaum muslimin khususnya kalangan pendidik dan siswa. Urusan sex adalah privacy yang tidak boleh dicampuri cara menyalurkannya, baik halal maupun haram. Padahal, hanya Islam yang memberikan aturan yang rinci dan tegas bagaimana menyalurkan naluri seksual sesuai dengan fitrah kesucian manusia. Mirisnya lagi, kini kasus seksual  tidak hanya dengan teman sebaya atau orang jauh, malah incest. Seperti Peristiwa baru-baru ini di Sumbar. Kakak-adik berusia remaja (14-17 tahun) yang berhubungan seksual hingga menghasilkan seorang bayi lalu dibuang ke tong sampah. Atau kejadian seorang ayah yang tega menyetubuhi anak-anak gadisnya yang masih pelajar SMP dan SMA hingga semua tewas berikut bayi-bayi hasil perilaku bejatnya juga dibunuh. Bukankah semua kasus yang kini tengah terjadi sangat menyahat hati dan tidak bisa dibiarkan? Pak Nadiem juga pasti prihatin dan sedih tentunya sebagai manusia terlebih dia juga seorang muslim. Naluri tadayyun nya pasti muncul saat mengetahui semua itu.

Ketiga, bicara kasus intoleransi, seperti apa kasus yang dimaksud Pak Menteri? Apakah terkait agama? Sudahlah. Kasus pelecehan agama itu terhadap agama lain selain Islam sangatlah minim, bahkan hampir mendekati nol. Anak-anak sekolah juga sekarang sudah jauh dari agama karena arus westernisasi yang tidak ada filter dan bentengnya. Boro-boro mau diskusi soal agama, anak SMA saja banyak yang tidak hapal sekedar rukun iman dan rukun Islam. Ditambah rasa takut pelajar mendekati ajaran agama mereka khususnya siswa muslim yang sudah di garis merah sebagai radikal jika taat beragama. Jadilah pelajar korban liberalisme. Jadi, focus Pak Nadiem tidak usah ke intoleransi soal agama. tetapi intoleransi soal qadha Allah. Intoleransi dan bully dua hal yang senada masalahnya yaitu persoalan fisik dan materi. So, focus saja disana. Sehingga terlihat masalah sebenarnya ada pada bully dan free sex akibat mengadopsi pemikiran liberal dan menjauhkan pelajar dari agama.

Setiap usaha seseorang untuk berbuat kebaikan tentulah layak diapresiasi. Tetapi harapan dalam menyelesaikan setiap persoalan harusnya tuntas, bukan sekedar solusi tambal sulam yang justru malah menambah masalah baru. Satu masalah tidak tuntas diatasi, muncul masalah baru akibat solusi yang salah.
Loading...


Demikianlah Artikel Tebus Tiga Dosa Pendidikan? Hanya Pendidikan Islam Solusinya!

Sekianlah artikel Tebus Tiga Dosa Pendidikan? Hanya Pendidikan Islam Solusinya! kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Tebus Tiga Dosa Pendidikan? Hanya Pendidikan Islam Solusinya! dengan alamat link https://www.kabarharian.me/2020/02/tebus-tiga-dosa-pendidikan-hanya.html

0 Response to "Tebus Tiga Dosa Pendidikan? Hanya Pendidikan Islam Solusinya!"

Posting Komentar

Loading...